Hadits Maudhu’

PENGERTIAN HADITS MAUDU’

Hadits maudhu’ berasal dari dua suku kata bahasa Arab yaitu al-Hadits dan al-Maudhu’. Al-Hadith dari segi bahasa mempunyai beberapa pengertian seperti baru (al-jadid) dan cerita (al-khabar). Kata al-Maudhu’, dari sudut bahasa berasal dari kata wadha’a –yadha’u – wadh’an wa maudhu’an – yang memiliki beberapa arti antara lain telah menggugurkan, menghinakan, mengurangkan, melahirkan, merendahkan, membuat, menanggalkan, menurunkan dan lain-lainnya. Arti yang paling tepat disandarkan pada kata al-Maudhu’ supaya menghasilkan makna yang dikehendaki yaitu  telah membuat. Oleh karena itu maudhu’ (di atas timbangan isim maf’ul – benda yang dikenai perbuatan) mempunyai arti yang dibuat.

Berdasarkan pengertian al-Hadits dan al-Maudhu’ ini, dapat disimpulkan bahwa definisi Hadits maudhu’ adalah sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW  baik perbuatan, perkataan, taqrir, dan sifat beliau secara dusta. Lebih tepat lagi ulama hadits mendefinisikannya sebagai apa-apa yang tidak pernah keluar dari Nabi SAW baik dalam bentuk perkataan, perbuatan atau taqrir, tetapi disandarkan kepada beliau secara sengaja.

Hadits maudhu’ ini yang paling buruk dan jelek diantara hadits-hadits dhaif lainnya. Ia menjadi bagian tersendiri diantara pembagian hadits oleh para ulama yang terdiri dari: shahih, hasan, dhaif dan maudhu’. Maka maudhu’ menjadi satu bagian tersendiri.

Menamakan hadits maudhu -yang dinegara kita dikenal hadits palsu- dengan sebutan hadits tidak menjadi masalah, dengan sebuah catatan. Diantaranya, ketika menyampaikan hadits tersebut harus diumumkan bahwa ia adalah  hadits palsu. Oleh sebab itu, berdasar istilah yang benar, hadits maudhu’ tidak boleh dikategorikan sebagai hadits walaupun disandarkan kepada hadits dhaif.

 

SEJARAH KEMUNCULAN HADITS MAUDHU’

Masuknya penganut agama lain ke Islam, sebagai hasil dari penyebaran dakwah ke pelosok dunia, secara tidak langsung menjadi faktor awal dibuatnya hadits-hadits maudhu’. Tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian dari mereka memeluk Islam karena benar-benar ikhlas dan tertarik dengan kebenaran ajaran Islam. Namun terdapat juga segolongan dari mereka yang menganut Islam hanya karena terpaksa mengalah kepada kekuatan Islam pada masa itu.

Golongan inilah yang kemudian senantiasa menyimpan dendam dan dengki terhadap Islam dan kaum muslimin. Kemudian mereka menunggu peluang yang tepat untuk menghancurkan dan menimbulkan keraguan di dalam hati orang banyak terhadap Islam.

Peluang tersebut terjadi pada masa pemerintahan Khalifah Usman bin Affan (W.35H), yang memang sangat toleran terhadap orang lain. Imam Muhammad Ibnu Sirrin (33-110 H) menuturkan, ”Pada mulanya umat Islam apabila mendengar sabda Nabi Saw berdirilah bulu roma mereka. Namun setelah terjadinya fitnah (terbunuhnya Ustman bin Affan), apabila mendengar hadits mereka selalu bertanya, dari manakah hadits itu diperoleh? Apabila diperoleh dari orang-orang Ahlsunnah, hadits itu diterima sebagai dalil dalam agama Islam. Dan apabila diterima dari orang-orang penyebar bid’ah, hadits itu dotolak”

Diantara orang yang memainkan peranan dalam hal ini adalah Abdullah bin Saba’, seorang Yahudi yang mengaku memeluk Islam. Dengan berdalih membela  Sayyidina Ali dan Ahlul Bait, ia berkeliling ke segenap pelosok daerah untuk menabur fitnah.

Ia berdakwah bahwa Ali  yang lebih layak menjadi khalifah daripada Usman bahkan  Abu Bakar dan Umar. Alasannya Ali telah mendapat wasiat dari Nabi s.a.w. Hadits palsu yang ia buat berbunyi: “Setiap Nabi itu ada penerima wasiatnya dan penerima wasiatku adalah Ali.” Kemunculan Ibnu Saba’ ini disebutkan terjadi pada akhir pemerintahan Usman.

Untungnya, penyebaran hadits maudhu’ pada waktu itu belum gencar karena masih banyak sahabat utama yang mengetahui dengan persis akan kepalsuan sebuah hadits. Khalifah Usman sebagai contohnya, ketika tahu hadits maudhu’ yang dibuat oleh Ibnu Saba’, beliau langsung mengusirnya dari Madinah. Hal yang sama  juga dilakukan oleh Khalifah Ali bin Abi Thalib.

Para sahabat tahu akan larangan keras dari Rasulullah terhadap orang yang membuat hadits palsu sebagaimana sabda beliau: “Siapa saja yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka dia telah mempersipakan tempatnya di dalam neraka.”

Meski begitu, kelompok ini terus mencari peluang yang ada, terutama setelah pembunuhan Khalifah Usman. Dari sini muncullah kelompok-kelompok tertentu yang ingin menuntut balas atas kematian Usman dan kelompok yang mendukung Ali, maupun yang tidak memihak kepada kedua kelompok tersebut. Dari kelompok inilah kemudian  menyebabkan timbulnya hadits-hadits yang menunjukkan kelebihan kelompok masing-masing untuk mempengaruhi orang banyak.

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari  Tawus bahwa pernah suatu ketika dibawakan kepada Ibnu Abbas suatu buku yang di dalamnya berisi keputusan-keputusan Ali. Ibnu Abbas kemudian menghapusnya kecuali sebagian (yang tidak dihapus). Sufyan bin Uyainah menafsirkan bagian yang tidak dihapus itu sekadar sehasta.

Imam al-Dzahabi juga meriwayatkan dari Khuzaimah bin Nasr, katanya: “Aku mendengar Ali berkata di Siffin: Semoga  Allah melaknati mereka (yaitu golongan  putih yang telah menghitamkan) karena telah merusak hadits-hadits Rasulullah.”

Menyadari hal ini, para sahabat mulai memberikan perhatian terhadap hadits yang disebarkan oleh seseorang. Mereka tidak akan mudah menerimanya sekiranya ragu akan kesahihan hadits itu. Imam Muslim dengan sanadnya meriwayatkan dari Mujahid (W.104H) sebuah kisah yang terjadi pada diri Ibnu Abbas : “Busyair bin Kaab telah datang menemui Ibnu Abbas lalu menyebutkan sebuah hadits dengan berkata  “Rasulullah telah bersabda”, “Rasullulah telah bersabda ”. Namun Ibnu Abbas tidak menghiraukan hadits itu dan juga tidak memandangnya. Lalu Busyair berkata kepada Ibnu Abbas “Wahai Ibnu Abbas ! Aku heran mengapa engkau tidak mau mendengar hadits yang aku sebut. Aku menceritakan perkara yang datang dari Rasulullah tetapi engkau tidak mau mendengarnya. Ibnu Abbas lalu menjawab : “Kami dulu apabila mendengar seseorang berkata “Rasulullah bersabda”, pandangan kami segera kepadanya dan telinga-telinga kami kosentrasi mendengarnya. Tetapi setelah orang banyak mulai melakukan yang baik dan yang buruk, kita tidak menerima hadits dari seseorang melainkan kami mengetahuinya.”

Sesudah zaman sahabat, terjadi penurunan dalam penelitian dan kepastian hadits. Ini menyebabkan terjadinya periwayatan dan penyebaran hadits yang secara tidak langsung turut menyebabkan berlakunya pendustaan terhadap Rasulullah dan sebagian dari sahabat. Ditambah lagi dengan konflik politik umat Islam yang semakin hebat, telah membuka peluang bagi golongan tertentu yang coba mendekatkan diri dengan pemerintah dengan cara membuat hadits.

Sebagai contoh, pernah terjadi pada zaman Khalifah Abbasiyyah, hadits-hadits maudhu’ dibuat demi mengambil hati para khalifah. Diantaranya seperti yang terjadi pada Harun al-Rasyid, di mana seorang lelaki yang bernama Abu al-Bakhtari (seorang qadhi) masuk menemuinya ketika ia sedang menerbangkan burung merpati. Lalu ia berkata kepada Abu al-Bakhtari : “Adakah engkau menghafal sebuah hadits berkenaan dengan burung ini? Lalu dia meriwayatkan satu hadits, katanya: “Bahwa Nabi Shaalaluulahu alai wa salam selalu menerbangkan burung merpati.”  Harun al-Rasyid menyadari kepalsuan hadits tersebut lalu menghardiknya dan berkata: “Jika  engkau bukan dari keturunan Quraisy, pasti aku akan mengusirmu.”

 

FAKTOR PENYEBAB MUNCULNYA  PEMALASUAN HADITS.

a.    Membela suatu madzhab, termasuk madzhab yang terpecah menjadi aliran politik setelah munculnya fitnah(masa setelah terbunuhnya Utsman bin Affan) dan maraknya aliran-aliran politik seperti Khawarij dan Syi’ah.  Masing-masing aliran membuat hadits-hadits palsu untuk  memperkuat golongannya. Ini merupakan asal dari kedustaan atas nama Rasulullah.
Imam Malik ditanya tentang Rafidhah, berkata:”Janganlah engkau bicara dengan mereka, jangan meriwayatkan (hadits) dari mereka sesungguhnya mereka berdusta.”

b.    Dalam rangka Taqarrub kepada Allah, dengan meletakkan hadits-hadits targhib(yang mendorong) manusia untuk berbuat kebaikan, atau hadits yang berisi ancaman terhadap perbuatan munkar. Mereka yang membuat hadits-hadits maudhu’ ini   biasanya menisbatkannya kepada golongan ahli zuhud dan orang-orang shalih. Mereka ini termasuk kelompok pembuat hadits maudhu’ yang paling buruk, karena manusia menerima hadits-hadits maudhu’ mereka disebabkan kepercayaan terhadap mereka.

Diantara mereka adalah Maisarah bin Abdi Rabbihi. Ibnu Hibban telah meriwayatkan dari kitabnya Ad Dhu’afa’, dari Ibnu Mahdi, dia bertanya kepada Maisarah bin Abdi Rabbihi:”Dari mana engkau mendatangkan hadits-hadits seperti, “Barangsiapa membaca ini maka ia akan memperoleh itu? Ia menjawab:”Aku sengaja membuatnya untuk memberi dorongan kepada manusia.”

c.    Mendekatkan diri kepada penguasa demi menuruti hawa nafsu. Sebagian orang yang imannya lemah berupaya mendekati sebagian penguasa dengan membuat hadits yang menisbatkan kepada penguasa agar mendapat perhatian.

Seperti kisah Giyats bin Ibrahim An Nakh’I  Al Kufi dengan Amir Mukminin Al Mahdi, ketika masuk ke(ruangan  Amirul Mukminin) dan menjumpai Al Mahdi tengah bermain-main dengan burung merpati. Maka ia menambahkan perkataan dalam hadits yang disandarkan kepada Nabi, bahwa beliau bersabda:

“Tidak ada perlombaan kecuali bermain pedang, pacuan, menggali atau sayap.”
Ia menambahkan kata sayap (junah), yang dilakukan  untuk menyenangkan Al Mahdi, lalu Al Mahdi memberinya sepuluh dirham. Setelah berpaling, Sang Amir berkata:”Aku bersaksi bahwa tengkukmu adalah tengkuk pendusta atas nama Rasulullah n .

Kemudian  Al Mahdi memerintahui untuk menyembelih burung merpati itu.

d.    Zindiq (Munafik) yang ingin merusak manusia dan agamanya.
Hamad bin Zaid  berkata:”Orang-orang zindiq membuat hadits dusta yang disandarkan kepada Rasulullah n sebanyak empat belas ribu hadits.”

Ahmad bin Shalih Al Mishri berkata:”(Hukuman bagi) orang zindiq adalah dipenggal lehernya, orang-orang dungu itu telah membuat hadits maudhu’ sebanyak empat ribu, maka berhati-hatilah.”
Ketika akan dipenggal lehernya Ibnu Adi berkata:”Aku telah memalsukan hadits diantara kalian sebanyak empat ribu hadits, aku mengharamkan yang halal dan  menghalalkan yang haram.”
Diantara mereka adalah Muhammad bin Sa’id Asy Syami yang dihukum mati dan disalib karena kezindikannya. Ia meriwayatkan hadits dari Humaid  dari Anas secara Marfu’: Aku adalah Nabi terakhir, dan tidak ada Nabi sesudahku kecuali yang Allah kehendaki.

e.    Mengikuti hawa nafsu dan ahli ra’yu yang tidak mempunyai dalil dari kitab dan sunah kemudian membuat hadits maudhu’ untuk membenarkan hawa nafsu dan pendapatnya.

f.    Dalam rangka mencari penghidupan dan memperoleh rizki. Seperti yang dilakukan sebagian tukang dongeng yang mencari penghidupan melalui berbagai cerita  kepada masyarakat. Mereka menambah-nambahkan ceritanya agar masyarakat mau mendengar dongengannya, lalu mereka memberi upah. Diantara mereka adalah Abu Sa’id Al Madani.

g.    Dalam rangka meraih popularitas, yaitu dengan membuat hadits yang gharib(asing) yang tidak dijumpai pada seorangpun dari syaikh-syaikh hadits. Mereka membolak balik sanad hadits supaya orang yang mendengarnya terperangah. Diantara mereka adalah Ibnu Abu Dihyah dan Hammad bin An Nashibi.

 

h.    Fanatisme terhadap Imam atau Negri.
Asy Syu’ubiyun memalsu hadits yang berbunyi:”Sesungguhnya Allah apabila murka menurunkan wahyu dengan menggunakan bahasa Arab, dan apabila ridha menurunkan wahyu dengan bahasa Persi (Al Farisiyah).” Maka seorang Arab yang jahil membaliknya, perkataan ini, yaitu, ” Sesungguhnya Allah apabila murka menurunkan wahyu dengan menggunakan bahasa Persi (Al Farisiyah), dan apabila ridha menurunkan wahyu dengan bahasa Arab.”

Dan orang yang ta’ashub(fanatik) terhadap Abu Hanifah, memalsu hadits, yang berbunyi:”Akan ada dari umatku seorang laki-laki yang disebut Abu Hanifah Al Nu’man, dia adalah penerang umatku.”
Dan orang yang tidak senang dengan Imam Asy Syafi’I, membuat hadits yang berbunyi:” Akan ada dari umatku seorang laki-laki yang disebut Muhammad bin Idris, dia lebih bahaya atas umatku dari pada iblis.”
Hadits ini diriwayatkan secara mutawatir, yaitu diriwayatkan 70 orang shahabat.
Dalam riwayat Al Bukhari tidak terdapat ( متعمدا) atau dengan sengaja. Namun dalam riwayat Ibnu Hibban terdapat kata ( متعمدا) ini.  Adapun ( فليتبوّأ) adalah perintah yang juga berarti kabar(berita), ancaman, penghinaan atau do’a atas pelakunya. Yaitu semoga Allah menyiapkan untuknya (nereka).
Syaikh Muhammad Abu Al Juwaini, berpendapat bahwa kafir bagi orang yang memalsu hadits Rasulullah dengan sengaja dan mengetahui (hukum berkenan) dengan yang ia ada-adakan.

Bagaimana Mengetahui Hadits Maudlu’

 

Hadits maudlu’dapat diketahui dengan beberapa hal, antara lain :

1. Pengakuan dari orang yang memalsukan hadits.

Seperti pengakuan Abi ‘Ishmat Nuh bin Abi Maryam, yang digelari dengan Nuh Al-Jaami’, bahwasannya ia telah memalsukan hadits-hadits atas Ibnu ‘Abbas tentang keutamaan-keutamaan Al-Qur’an surat per surat; dan seperti juga pengakuan Maisarah bin Abd Rabbih Al-Farisi bahwasannya ia telah memalsukan hadits tentang keutamaan Ali sebanyak tujuh puluh hadits.

 

2. Apa yang diposisikan sama dengan pengakuannya.

Seperti bila seseorang menyampaikan hadits dari seorang syaikh, dan hadits itu tidak diketahui kecuali dari syaikh tersebut, ketika si perawi itu ditanya tentang kelahirannya lalu menyebutkan tanggal tertentu. Setelah diteliti dari perbandingan tanggal tanggal kelahiran perawi dengan tanggal kematian sang syaikh yang diriwayatkan darinya, ternyata perawi dilahirkan sesudah kematian syaikh, atau pada saat syaikh itu meninggal dia masih kecil dan tidak mendapatkan periwayatan.

 

3.  Adanya indikasi pada perawi yang menunjukkan akan kepalsuannya, misalnya seorang perawi Rafidlah dan haditsnya berisi tentang keutamaan ahlul-bait.

 

4.  Adanya indikasi pada isi hadits, seperti : Isinya bertentangan dengan akal sehat, atau bertentangan dengan indera dan kenyataan, atau berlawanan dengan ketetapan agama yang kuat dan terang, atau susunan lafadhnya lemah dan kacau.

Misalnya apa yang diriwayatkan Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dari bapaknya dari kakeknya secara marfu’,”Bahwasannya kapal Nabi Nuh thawaf mengelilingi Ka’bah tujuh kali dan shalat dua raka’at di maqam Ibrahim”.

Galeri | Pos ini dipublikasikan di Agama dan Pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s